Artikel

Praktik Baik Pendampingan Sekolah Penggerak  di SDN Mumpe Kabupaten Banggai

Praktik Baik Pendampingan Sekolah Penggerak
di SDN Mumpe
Kabupaten Banggai

Oleh Heriwanty

Dr. Heriwanty, S.S., M.Hum.

SDN Mumpe adalah sekolah yang terletak di subdusun Doda Bunta, Desa Bunta Kecamatan Simpang Raya Kabupaten Banggai. Lokasi sekolah cukup jauh dari ibu kota kabupaten. Untuk sampai ke sekolah tersebut, harus melewati jalan setapak, yang dapat dilalui kendaraan motor roda dua yang telah dimodifikasi pada musim kemarau. Hal berbeda jika musim hujan, SDN Mumpe tidak dapat dijangkau dengan berkendaraan motor roda dua. Satu-satunya cara mengakses SDN Mumpe pada musim hujan adalah dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer.

Pada tahun 2021, SDN Mumpe dinyatakan lolos sebagai sekolah penggerak bersama  delapan SD lainnya yang berada di Kabupaten Banggai. Hal tersebut cukup mencengangkan karena keberadaan SDN Mumpe dianggap tidak layak. SDN Mumpe tidak memiliki jaringan listrik, apalagi jaringan internet, ditambah lagi lokasi sekolah yang susah diakses.
Saat ini jumlah siswa di SDN Mumpe sebanyak 38 orang dan jumlah guru sebanyak 5 orang termasuk kepala sekolah dan satu-satunya yang berstatus PNS hanyalah kepala sekolah, Sebuah kondisi yang memprihatinkan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk melakukan perbaikan demi memberikan layanan terbaik kepada siswanya.

Halaman dan siswa SDN Mumpe. Sebagian siswa tidak memakai alas kaki

Dengan jumlah siswa yang hanya sedikit, dapat dibayangkan berapa anggaran Biaya Operasional Sekolah (BOS) SDN Mumpe. Ketiadaan jaringan listrik juga membuat kompetensi guru sangat rendah. Guru-guru tidak dapat mengakses berbagai sumber belajar yang sangat dibutuhkan. Saat guru-guru yang berada di sekolah lain dengan mudahnya dapat mengakses internet, guru-guru SDN Mumpe baru belajar meng-on dan meng-off kan laptop. Tak satupun guru (kecuali kepala sekolah) yang dapat mengoperasikan, komputer meskipun hanya sekedar mengetik. Pada sisi lain, sarana prasarana SDN Mumpe pun sangat  minim. Sekolah ini tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki fasilitas belajar dan olah raga yang memadai selayaknya sekolah-sekolah lain. Media pembelajaran seperti bola dunia dan KIT IPA pun tidak tersedia di sekolah ini.

Permasalahan

Melihat kondisi di atas, dapat dibayangkan berbagai masalah yang terjadi di sekolah. Masalah-masalah yang dihadapi antara lain rendahnya kompetensi guru terutama dalam menggunakan alat-alat TIK, tidak terpenuhinya kebutuhan guru, kurangnya fasilitas belajar dan media pembelajaran, tidak termaanfaatkannya pekarangan sekolah dengan baik.

Strategi Pendampingan Sekolah

Coaching dan PMO level sekolah menjadi sarana bagi saya untuk melakukan pendampingan.Pada saat melakukan coaching, saya mencatat seluruh poin yang disampaikan oleh kepala sekolah. Menjelang akhir coaching, saya menyampaikan poin-poin yang disebutkan oleh kepala sekolah. Selanjutnya saya meminta konfirmasi kepala sekolah untuk memutuskan solusi yang akan ditempuh dan meminta kepala sekolah untuk membuat estimasi waktu penyelesaian tindak lanjut. Dengan demikian, setiap selesai coaching, rencana tindaklanjut kepala pun selesai. Pada pertemuan berikutnya, pelatih ahli mengecek keterlaksanaan RTL. 

Berdasarkan uraian permasalahan yang dihadapi SDN Mumpe, hampir semua masalah merupakan hal yang urgen. Hal tersebut menjadi tantangan sendiri bagi saya sebagai pendamping sekolah ini. Seperti diketahui, pendampingan sekolah penggerak, baik coaching maupun PMO level sekolah dilaksanakan secara daring. Ketidakmampuan guru-guru dalam mengoperasian komputer dan tidak adanya akses listrik dan internet menjadi masalah utama. Intervensi bagi sekolah penggerak oleh pelatih ahli sangat bergantung pada jaringan internet.

Model coaching dan PMO level sekolah yang dilakukan secara daring membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai pelatih ahli dalam melakukan pendampingan. Untuk mengatasi tantangan tersebut ada dua hal yang saya lakukan,  yaitu memotivasi kepala sekolah saat coaching untuk mengaktifkan komunitas belajar tingkat sekolah dan “mengisinkan” guru-guru untuk menggunakan satu atau dua perangkat saja agar hemat pulsa. Dengan honor yang sagat minim, saya tidak tega melihat mereka “turun gunung saat melakukan pendampingan PMO level sekolah. Untuk membantu menyediakan pulsa, saya memberikan kuis yang harus mereka jawab. Setiap yang memberikan jawaban benar akan mendapatkan pulsa. Dengan demikian, saya berharap mereka semua bisa mengikuti sesi pendampingan  PMO.

Dukungan kuat dari kepala sekolah sangat membantu dalam implementasi sekolah penggerak. Setiap hari Minggu, semua guru “turun gunung” berkumpul di ibu kota kecamatan untuk belajar bersama. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan guru-guru menggunakan komputer dan kepala sekolah bertindak sebagai mentor. Kegiatan belajar bersama ini dilaksanakan setiap hari Minggu kecuali jika pada hari tersebut ada kegiatan lain yang sudah terjadwal. Untuk meningkatkan keterampilan TIK guru, saya juga meminta guru untuk mempresentasikan modul ajar atau modul projek yang dibuat. Secara tidak langsung, guru-guru akan belajar melakukan presentasi menggunakan alat TIK.

Presentasi Modul Ajar oleh Guru

Permasalahan kebutuhan guru seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah mengkomunikasikan langsung kebutuhan guru ini kepada Kepala Dinas Pendidikan Daerah  Kab. Banggai.

Strategi lain yang saya lakukan adalah bergabung dalam WAG sekolah. Meskipun tidak setiap hari guru-guru dapat mengakses WAG namun melalui WAG tersebut guru-guru bebas menyampaikan harapan-harapannya, bebas bertanya, bebas berkeluh kesah dan bercanda. Pelatih ahli berbaur sebagai bagian dari keluarga SDN Mumpe.

Kondisi pekarangan sekolah yang cukup luas namun belum dikelola juga menjadi tantangan sendiri bagi saya sebagai pelatih ahli sekolah tersebut. Kondisi ekonomi orang tua siswa tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan mata pencaharian utama sebagai petani ladang yang tidak tersentuh teknologi, tentulah tidak banyak yang bisa diharapkan. Melihat kondisi tersebut, saya sebagai pelatih ahli tergerak untuk menjadikan sekolah sebagai kebun percontohan. Dengan mengajak semua guru dan kepala sekolah berdiskuis untuk memanfaatkan lahan, maka lahirlah rencana pemanfatan pekarangan. Pelatih ahli meminta kepala sekolah membicarakan rencana tersebut dengan orang tua murid.

Guru Mengunduh Contoh Modul Saat di Ibu Kota Kecamatan

Perubahan Yang Dihasilkan

Tindakan-tindakan kecil yang dilakukan cukup berdampak bagi sekolah dan warga sekolah. Komunitas belajar tingkat sekolah yang dilakukan sebagai wadah sharing guru-guru sangat membantu guru meningkatkan kompetensinya. Guru-guru yang awalnya belum pernah menggunakan laptop, akhirnya sudah dapat mengoperasikan laptop, mulai dari mengetik pada MS Word dan MS Excel, juga mempbuat power point, cara mendownload bahan, dan menggunakan latop untuk presentasi saat pertemuan daring dan menggunakan platform untuk mengakses  Bagi orang lain, keterampilan ini mungkin tidak berarti, tetapi bagi guru-guru di SDN Mumpe ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Terkait dengan kondisi pekarangan, sebelum pendampingan, kondisi pekarangan kosong, tidak terolah dan tidak tertata. Komunikasi ke orang tua siswa bak gayung bersambut; orang tua sangat mendukung. Dukungan orang tua nyata pada saat pengolahan lahan untuk menjadi area pembibitan dan area tanam. Kepala sekolah dan guru menyusun site plan pemanfaatan pekarangan. Lahirrlah kesepakatan bahwa setiap kelas memiliki tanggung jawab area kebun. Tanggung jawab tersebut mulai dari pengolahan tanah, pemagaran, membibitan, pemeliharaan, dan panen nanti. Penyediaan bibit  tanaman sayur menjadi tanggung jawab saya.

Setelah pendampingan, pekarangan sekolah menjadi teratur dan termanfaatkan. Pekarangan menjadi kebun yang subur ditumbuhi tanaman yang bernilai jual, seperti sayur bayam, kangkung, terong, jahe dan kol. Dengan demikian, kebun sekolah bisa menjadi inspirasi bagi masayarakat dusun untuk memanfaatkan pekarangan mereka dengan baik.

Perubahan berarti juga terihat pada sikap guru-guru. Awalnya guru-guru tidak berani berbicara; ada rasa sungkan. Namun dengan membangun keakraban melalui WAG, guru-guru tidak segan dalam mengeluarkan pendapat, menyampaikan keluhan, maupun bertanya jika ada hal-hal yang belum mereka pahami. Bahkan setiap pendampingan PMO level sekolah, semua guru pasti menyatakan pendapatnya.

Seberapa bermanfaatkah berita ini?

Berikan jumlah bintangmu untuk menilai Postingan ini!

Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah Voting 0

Belum ada penilaian!

18 komentar pada “Praktik Baik Pendampingan Sekolah Penggerak  di SDN Mumpe Kabupaten Banggai